Pengadilan Agama Waingapu

Potret Senyap Judi Online: Runtuhnya Sendi Keluarga Tanpa Suara | Oleh Drs. Aunur Rofiq, M.H. (3/9)

Oleh : Drs. Aunur Rofiq, M.H.

A. Pendahuluan

Rumah, dalam pengertian yang paling purba, bukanlah sekadar atap yang menaungi tubuh dari hujan dan terik. Ia adalah altar kecil tempat cinta dirawat, tempat anak-anak belajar mengeja arti percaya, dan tempat suami-istri menenun janji menjadi riwayat. Namun, di balik pintu yang tampak tenang itu, sebuah keretakan sedang berlangsung tanpa suara. Ia tidak diawali dengan pertengkaran yang meledak di ruang tamu, melainkan dengan sunyi seorang kepala keluarga yang menatap layar ponsel pada siang atau malam hari, tanpa kenal waktu, menaruh harapan pada putaran angka yang tak pernah berpihak. Keluarga merupakan institusi sosial paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Sebelum negara berdiri dengan sistem hukumnya, sebelum sekolah hadir dengan kurikulumnya, bahkan sebelum masyarakat membentuk struktur sosial yang kompleks, keluarga telah lebih dahulu menjadi ruang pertama tempat manusia belajar tentang cinta, tanggung jawab, nilai, dan makna kehidupan. Dalam keluarga, manusia mengenal kasih sayang sebelum mengenal hukum; mengenal pengorbanan sebelum memahami teori sosial; dan mengenal kejujuran sebelum memahami etika. Dalam perspektif agama, keluarga bukan sekadar ikatan biologis dan administratif, melainkan sebuah perjanjian suci (mitsaqan ghalizhan) yang dibangun atas dasar cinta, kasih sayang, tanggung jawab, dan pengabdian kepada Tuhan.

Selengkapnya

Scroll to Top